Tentang Jodoh

Seringkali banyak pertanyaan-pertanyaan yang cuma muter-muter doang di kepala, tapi kemarin gue iseng bikin poll di instagram, pengen tau apakah mayoritas orang memilih jodohnya (baca: orang yang dinikahinya. Karena sebetulnya konsep jodoh masih abu-abu di pemikiran gue, tapi itu untuk celotehan lain kali) dengan berniat menikah dulu lalu mencari, atau dapetin orangnya dulu baru niat menikah?

Pertanyaan ini sebetulnya muncul beberapa bulan lalu ketika makan malam di rumah bos gue (yang berasal dari pulau kecil jajahan Perancis, yang ngomongnya pakai bahasa Perancis, tapi jauh banget dari Perancis (11 jam naik pesawat)). Bu bos ngajak masak-masak di rumahnya karena beberapa hari lagi gue akan pulang ke Indonesia. Sambil ngobrol santai tentang kehidupan, kita tiba pada pembahasan tentang jodoh. Dia bilang, "Saya nggak pernah kepikiran untuk menikah sampai saya ketemu dia" (nunjuk ke suaminya).

Dalam hati gue langsung bilang, "Yee, wajarlah lu kan bule coy, nggak nikah juga wajar-wajar aja." Tapi gue jadi mikir lama (gue emang pada dasarnya lama aja gitu mikirnya), "Berarti suaminya itu spesial banget gitu sampai dia mau nikah, padahal tadinya nggak kepikiran?! Kalo orang Indo sih harus diniatin untuk nikah, ditargetin umurnya segala pula!" 

Tapi... apa iya?

Dari polling instagram yang iseng-iseng gue bikin itu, ternyata 65% memilih untuk mendapatkan orang yang tepat dulu lalu berniat untuk menikah, sementara cuma 35% yang memilih berniat nikah dulu lalu cari orang yang tepat.



Di kepala gue, perbedaan antara dua cara pandang itu adalah: kalau niat menikah dulu lalu mencari, berarti orang itu punya kriteria, dan mencari orang yang tepat berdasarkan kriteria-kriteria itu. (lempar umpan satu-satu ke sasarannya). Mungkin juga, dia punya target umur untuk merasa siap menikah.

Sementara, cara pandang yang ke-dua, kalau awalnya berusaha mendapatkan orang yang tepat dulu lalu niat menikah, artinya orang itu nggak punya kriteria, dan bisa saja cocok dengan siapapun (lempar umpan yang banyak, dan lihat mana yang sama-sama nyantol). Mungkin juga, dia nggak punya target umur harus menikah.

Nggak ada yang salah dengan pilihan manapun, tapi ini jadi menarik buat gue, karena hipotesis gue salah. Ternyata, tidak seperti itu lho nad di Indonesia pun!

Sebagai si minoritas, gue jadi mempertanyakan diri gue sendiri. "Kok elu niat nikah dulu sih baru nyari orangnya?" Gue jadi kilas balik ke masa-masa lalu dan melihat keputusan-keputusan gue dalam hidup, terutama yang menyangkut jodoh.

Pertama, gue udah niat nikah dari jaman SD coy. Oke, tertawalah hahaha.. gue juga geli sih kalo mikir itu. Tapi ini gara-gara suatu hari gue ke rumah temen gue dan ngeliat foto pernikahan emak-babehnya bagus banget. Emaknya pakai gaun putih, mukanya cantik, babehnya pake jas hitam, ganteng lah pokoknya. Gue jadi pengen nikah. Serius, se-simple itu. Ide nikah ini berlanjutlah dengan pacaran-pacaran ala anak SD (telpon-telponan, kadang dari wartel, kirim-kiriman surat pas jam istirahat). Gue masih kelas 4 SD dan si "pacar" gue itu kelas 6. Gue merasa jumawa karena bisa pacaran sama kakak kelas. Gue bahkan sampai mikir "Ayah dan mama kan bedanya 2 tahun juga, ayah lebih tua 2 tahun dari mama, berarti sama dong kayak aku dan si Boy (panggil saja Boy, karena masih anak kecil)." Semenjak sama si Boy, gue jadi punya kriteria buat milih cowok yang 2 tahun lebih tua. 

Dengan berjalannya waktu, dan seiring dengan jumlah cowok yang gue kenal, kriteria gue makin panjang. Kalau ketemu cowok yang nggak memenuhi kriteria itu, gue langsung mundur, nggak peduli udah berapa lama waktu buat mengenal, karena gue berpikir "nggak bisa nikah sama si itu". Seringkali, keputusan gue yang berasal dari otak gue yang dari dulu niatnya nikah aja itu menyakitkan si cowok karena gue dianggep seenak udel. But I've learned my lessons.

Kedua, mencari orang yang tepat artinya m-e-n-c-a-r-i. Sebuah kata kerja. Walaupun pada realitanya gue nggak seaktif itu, tapi setiap tatapan gue ke cowok adalah tatapan penuh penilaian. Gue makin geli sama tulisan gue sendiri. Hahaha.. 
Setiap cowok yang gue lihat, entah itu orang asing, atau orang yang kenal, pasti gue nilai, "Apakah kita cocok? Kalau nggak cocok, apakah akan cocok nantinya?" (yang ini kalau orangnya ganteng banget). Biasanya dalam 5 menit, gue sudah bisa mengambil kesimpulan. Kalau dalam 5 menit gue belum bisa mengambil kesimpulan, biasanya akan berlanjut ke tahap seleksi selanjutnya. (Perlu diingat, tahapan seleksi ini hanya ada di otak gue sendiri, belom tentu di otak cowoknya).

Sampai pada titik dimana gue lelah dengan segala analisa sendiri, dan emak gue yang maha-tau-aja pada suatu hari bilang, dulu selain berdoa meminta jodoh, dia juga berpegang pada filosofi orang Jawa kalau memilih pasangan harus melihat "bibit, bebet, bobot" (untuk bagian ini, silakan Google sendiri). Sementara babeh gue cuma selalu nanya, "Dia (siapapun itu cowok yang lagi deket sama gue) solat nggak?" 

Jadilah segala kriteria gue yang ngejelimet berubah menjadi hanya 4, dan hap! ketemulah gue dengan si Mas ini yang mukanya kita umpetin aja dulu ya..

Sebetulnya, inti dari tulisan gue ini adalah.. tidak ada ya, namanya juga nyeloteh. Tapi menyadari bahwa keputusan-keputusan kita berasal dari seusatu yang tanpa kita sadari ada di otak kita, itu menarik aja buat ditulis. 

Sekarang, kalau kita coba sering bertanya ke diri sendiri, "Kenapa ya gue milih dia? Kenapa ya gue mutusin dia? Kenapa ya gue begini/begitu?" pasti jadi panjang (dan bingung), tapi bisa mengenal diri sendiri lebih dalem.


Comments

  1. a lot can be discussed on this, yet, it s better to know a little bit in time, about the person who s gonna be your life partner

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts